Ilustrasi Pembalut Luka│ Kompas.com

Kecelakaan bisa saja terjadi kapan saja dan di mana saja. Akibatnya, tubuh kita akan mengalami luka, baik itu luka bagian dalam maupun bagian luar. Umumnya, luka bagian luar sering dialami oleh kebanyakan orang dan memerlukan penanganan yang tepat untuk menyembuhkan luka tersebut.

Dalam dunia medis, pembalut luka digunakan untuk mengobati luka bagian luar. Pembalut luka yang sering digunakan oleh masyarakat adalah perban, yang mana perban itu harus rutin diganti dan harus dilepas. Meski sudah menggunakan perban yang diberi obat, terkadang penyembuhan luka memerlukan waktu yang relatif lama.

Masalah tersebut telah menarik perhatian salah seorang dosen Prodi Teknik Mesin, UMY Dr. Ir. Harini Sosiati, M.Eng., untuk melakukan penelitian dan pengembangan di grup riset nanomaterial, lab. Material, yang telah dikelolanya sejak tahun 2017. Salah satu topik riset yang sedang dikembangkan di grup nanomaterial saat ini adalah pembuatan membran berstruktur serat berskala nanometer atau lebih familiar disebut serat nano untuk aplikasi di bidang biomedis, yang salah satunya adalah pembalut luka dan sekaligus penyembuh luka.

Salah satu fungsi pembalut luka adalah menyediakan perlindungan untuk membantu pembentukan jaringan baru. “Saya membuat pembalut luka yang menempel, bisa menyatu dengan kulit. Jadi tidak perlu dilepas,” ungkap Harini

Harini mengungkapkan bahwa riset ini dilakukan berdasarkan visi Program Studi (Prodi) Teknik Mesin UMY dalam bidang Hospital Engineering. Pada pembuatan membrane serat nano tersebut Harini memanfaatkan bahan-bahan alami diantaranya kitosan yang terbuat dari limbah cangkang udang atau kepiting, dan aloe vera yang mudah dibudidayakan di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Dalam hal ini bahan yang dipilih untuk pembuatan membran nanofiber adalah polimer alam kitosan dan polimer sintetis polivinil alcohol (PVA) karena keduanya memiliki sifat kompatibel dengan jaringan tubuh, dapat terurai secara alami dan tidak beracun.

Harini mengungkapkan penelitian ini menggunakan bahan-bahan alami. “Kitosan dapat dibuat dari limbah cangkang udang,” ujar Harini. Dengan memanfaatkan salah satu olahan limbah menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Harini menambahkan bahwa dalam risetnya selain menggunakan kitosan, juga menggunakan aloe vera yang tersedia melimpah di alam Indonesia.

Produk membran nanofiber kitosan/PVA dan aloe vera/PVA yang dibuat dengan metode electrospinning sebagai bahan pembalut luka alternatif juga telah diuji cobakan pada hewan coba (tikus). Hal ini dilakukan untuk mengetahui efektivitasnya jika dibandingkan dengan membrane yang ada di pasaran yaitu sofra-tulle yang telah diberi antibiotik. Dalam tahap pengujiannya, Harini bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran. Hasilnya menunjukkan bahwa membrane aloe vera/PVA lebih unggul dibandingkan dengan membran sofra-tulle dan juga kitosan/PVA maupun PVA murni.

Pembalut luka berbasis serat nano ini dapat menjadi alternatif di dunia medis. Meski riset ini masih terus dikembangkan, Harini mengungkapkan riset ini sudah mencapai 90% yang menunjukkan hasil positif dan aman digunakan oleh manusia. “Masih saya coba lagi. Saya bandingkan, yang tadinya emulsi kitosan sekarang kitosannya dibuat nano berupa serbuk,” ujar Harini. Ia menambahkan pembalut luka ini perlu disempurnakan, dari penggunaan bahan, perbandingan campuran bahan, struktur membran, hingga dapat dikomersialkan menjadi prototype.