M. Nabil Dhiyaulhaq Dzikrulloh mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Mesin UMY berhasil menorehkan prestasi di Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Teknologi (PKM-T) UMY. Nabil bersama dengan Afrio Darmawan (Agribisnis), Maki Lukmanul Hakim (Agroteknologi) dan Marbudi (Agribisnis) berhasil menciptakan alat bernama "Bangker Pintar" untuk mengatasi permasalahan kelompok Budidaya Jamur di dusun Gamol, desa Balecatur, kecamatan Gamping, Sleman.

Nabil mengungkapkan bahwa banyak petani mengeluhkan tingginya tingkat kegagalan panen karena sulitnya membuat baglog yang nantinya akan menjadi tempat tumbuhnya bibit jamur. Tingkat kontaminasi media jamur tiram pada kelompok Budidaya Jamur Gamol mencapai 50% dan produktivitasnya hanya setengah dari produktivitas normal. Hal ini disebabkan karena penggunaan alat pasteurisasi media jamur tiram yang kurang efektif sehingga media jamur tiram tidak matang. Alat yang digunakan terdiri dari ruang pasteurisasi yang tidak rapat dan tungku kayu sederhana. Kelompok budidaya Jamur Gamol terpaksa menggunakan alat tersebut karena alat pasteurisasi yang standar harganya mencapai ratusan juta rupiah.

Berangkat dari masalah tersebut, Nabil bersama tiga mahasiswa lainnya menciptakan Bangker Pintar yaitu alat pasteurisasi berbentuk silinder berdiameter 1,2 meter berbahan besi setebal 4 milimeter. "Tujuan diciptakannya Bangker Pintar adalah sebagai alat pasteurisasi yang terjangkau bagi kelompok usaha tani yang berfungsi untuk meningkatkan produktivitas dan keuntungan usaha kelompok budidaya Jamur Gamol," ungkap Nabil.

Nabil pun menjelaskan proses pembuatan bangker yang memakan waktu 3 minggu ini, meliputi analisis kebutuhan pengguna alat, perancangan alat yang melibatkan bengkel, uji coba alat dengan kalibrasi, serta pendampingan penggunaan alat dan monitoring kendala. "Bangker ini memproduksi uap panas dengan boiler dengan jenis firetube, dimana memiliki luas permukaan lebih luas dibanding alat sebelumnya, sehingga perpindahan kalor lebih besar dan menjadikan lebih cepatnya produksi uap dan lebih efisiensinya penggunaan bahan bakar. Siklus sirkulasi uap air berputar secara alami tanpa menggunakan pompa, yaitu uap panas menuju atas bagian bangker dan uap yang menjadi tetesan air menuju ke bawah (boiler) untuk diproduksi menjadi air kembali, sehingga menghemat jumlah penggunaan air," jelas Nabil saat dihubungi oleh Prodi Teknik Mesin melalui aplikasi Whatsapp (16/8). Dengan menggunakan Bangker Pintar, hasil jamur yang semula hanya 160 kg meningkat menjadi 332,5 kg dan keuntungan produksi juga meningkat dari Rp 607.500/musim tanam menjadi 2.695.000/musim tanam.

Saat ini Bangker Pintar sudah diajukan ke hak paten tahap satu, dan Nabil berharap agar Bangker Pintar ini dapat diperbanyak sehingga dapat digunakan oleh kelompok budidaya jamur lainnya. Nabil pun memberikan motivasi untuk mahasiswa Prodi Teknik Mesin, "Setiap Mahasiswa memiliki potensi masing-masing, gali potensi semaksimal mungkin selagi masih menjadi mahasiswa. Bisa lewat organisasi atau kompetisi-kompetisi yang ada. Mahasiswa sering bilang "dolan e kurang adoh" bisa jadikan itu untuk motivasi, dalam artian dolan untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di lapangan tidak hanya sebatas teori saja."